Kopi Liberoid Meranti, Varietas Unggul dari Lahan Gambut Kabupaten Kepulauan Meranti

Kopi Liberoid Meranti, Varietas Unggul dari Lahan Gambut Kabupaten Kepulauan Meranti

Selain Sagu Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti di Provinsi Riau memiliki potensi varietas lokal yang sudah dikembangkan dengan baik, yaitu Kopi Liberoid Meranti. .
Jika biasanya kita menemui kopi jenis arabika atau robusta, maka kopi ini berbeda sekaligus unik, karena ia tergolong jenis liberika. Kopi jenis liberika dapat ditanam di ketinggian 1 meter sampai 500 meter dari permukaan laut.
Di tempat asalnya, Desa Kedaburapat, Pulau Rangsang, kopi dataran rendah ini menjadi tanaman endemik yang tumbuh di lahan gambut yang berlokasi 300 m dari permukaan pantai, yang umumnya sangat sulit ditanami karena berkadar asam tinggi. .
Hal ini memberikan kopi liberika ciri khas rasa dan aroma yg berbeda dari kopi lainnya. Selain itu, kopi ini juga ditanam secara tumpang sari di antara pinang dan kelapa, sehingga sangat membantu dari hasil pendapatan petani, dengan nilai pasar yang jelas dan harga yang menjanjikan.
.
Hafis, tim pemasaran kopi liberoid Meranti yang pada KTNA Expo kemarin bergabung di stand Pusat PVTPP, menuturkan bahwa tanaman ini berasal dari Afrika yg mempunyai ciri khas tidak mudah terserang hama dan penyakit, antara lain karat daun, penyakit batang, dan bahkan penyakit akar, sehingga tanaman ini tidak mudah punah dari zaman ke zaman. .
Perpaduan unik aroma nangka dan rasa cokelat pada kopi ini menawarkan kepuasan tersendiri bagi penikmat kopi. Sebab nilai citarasanya yang berkategori excellent, Liberoid Meranti berpotensi menghasilkan kopi spesialiti (specialty coffee). Ditambah dengan kadar keasaman dan kafein yang rendah, kopi ini memiliki kualitas yang semakin lengkap.

Pada tahun 2016, dua varietas kopi ini telah didaftarkan di Pusat PVTPP sebagai varietas lokal unggul Kabupaten Kepulauan Meranti dengan nama Liberoid Meranti 1 dan Liberoid Meranti 2. Masyarakat Peduli Kopi Liberika Rangsang Meranti (MPKLRM) sudah pula berhasil membawa kopi ini mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan HAM sebagai bentuk perlindungan hukum. (Diolah dari berbagai sumber, video dari laman Facebook Pariwisata Riau)

Sejak tahun 1980, kopi ini sudah mampu menembus pasar Malaysia, bahkan nilai penjualannya mencapai 90% dari keseluruhan penjualan, sisanya yang 10% diserap pasar lokal. Harga belinya di negara jiran tersebut memang fluktuatif, tapi bertahan di kisaran cukup tinggi.
Dibandingkan dengan kopi jenis lain, liberika diakui cukup mahal. Hal ini dikarenakan kopi liberika sudah memiliki segmen pasar tersendiri. Selain itu juga akibat minimnya hasilnya ketika menjadi kopi bubuk. Sebagai perbandingan, 10 kg buah gelondong (buah merah) kopi liberika, setelah diolah menghasilkan 0,9 ons biji kopi (green bean), bahkan tidak sampai 1 kg. Berbeda dengan arabika dan robusta yang hasil biji kopinya merupakan separuh dari buah mentahnya.
Beberapa tahun belakangan ini, pemasaran dalam negeri telah coba digenjot dengan cara menawarkan ke hotel dan warung kopi di Riau, rutin ikut pameran/festival kopi, dan memperluas jaringan dengan membuka agen penjualan di beberapa daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *