Lebih Dekat Dengan Dr.Ir. Sri Rahayu,M.Si : Peneliti Senior LIPI, Pemulia Bunga Lipstick dan Hoya

Lebih Dekat Dengan Dr.Ir. Sri Rahayu,M.Si : Peneliti Senior LIPI, Pemulia Bunga Lipstick dan Hoya

Dalam rangka penyusunan Profil Varietas Indonesia Jilid I, Bidang Perlindungan Varietas Tanaman Pusat PVTPP akan melakukan wawancara dengan para pemulia tanaman yang varietas hasil rakitannya telah di-PVT-kan dan terpilih untuk diusung dan akan diulas dalam Profil Varietas Indonesia Jilid I.

Kamis(210219), bertempat di Pusat Konservasi Tumbuhan LIPI yang berlokasi di Kebun Raya Bogor,kami berkesempatan mewawancarai Dr. Ir. Sri Rahayu, M.Si peneliti senior LIPI yang telah bergelut dengan perakitan varietas tanaman hias sejak tahun 1994.  Setelah menyelesaikan pendidikan dari sarjana sampai program doktor nya di Institut Pertanian Bogor, Rahayu konsisten dengan konsentrasi studi terkait bidang keilmuan biologi. Mahasiswi IPB angkatan 23 ini menyelesaikan pendidikan S1 nya pada Fakultas Biologi  Jurusan Populasi dan Genetika Tanaman pada tahun 1991.  Setelah lulus beliau sempat bekerja pada Project Research Retailing, AMDAL dan juga BIOTROP  sebelum akhirnya diterima sebagai ASN di LIPI pada tahun 1994. Pendidikan Pasca Sarjana dengan konsentrasi studi Keragaman Genetik diselesaikannya pada tahun 1998. Gelar Doktor pada Jurusan Biologi Tumbuhan Konsentrasi Studi Plant Genetic Conservations berhasil diraih pada tahun 2010.

Tangan dingin perempuan ramah dan enerjik kelahiran Rembang, 30 September 1968 inilah yang melahirkan 3 varietas tanaman hias yang telah di PVT kan oleh LIPI yaitu bunga lipstik varietas Soedjana Kassan, Mahligai dan bunga Hoya varietas Kusnoto.  Bunga lipstick Soedjana Kassan dengan ciri khas tabung bunganya yang bergaris, merupakan hasil persilangan  antar dua species yaitu Aeschynanthus radicans dan Aeschynanthus tricolor. Keduanya merupakan tanaman koleksi dari Kalimantan pada tahun 2000.  Adapun proses persilangan dilakukan pada tahun 2002 danbaru berbunga pada tahun 2006. Sedangkan bunga Lipstick varietas Mahligai yang merupakan hasil mutasi sinar gamma memiliki ciri keunikan pada mahkota bunganya yang berlipat dengan warna oranye cerah.  Adapun bunga Hoya varietas Kusnoto merupakan hasil mutasi pada tahun 1996.

Peraih penghargaan Alih Teknologi Awards 2016 dan 2017 untuk kategori tanaman hias ini menceritakan bahwa untuk memperoleh suatu varietas dibutuhkan proses yang sangat panjang dan berliku.  Beberapa varietas, diawali proses perakitannya melalui kegiatan eksplorasi oleh peneliti ke pedalaman hutan untuk mengambil plasma nutfah tanaman tertentu sebelum didomestikasi, dikonservasi dan dimanfaatkan sebagai bahan penelitian lebih lanjut termasuk penggunaannya sebagai materi indukan bagi kegiatan pemuliaan. Salah satu pengalaman mengesankan yang beliau ceritakan adalah saat bersama tim melakukan kegiatan eksplorasi ke hutan Bukit Batikap Kabupaten Barito Hulu Kalimantan Tengah (sekarang menjadi bagian dari wilayah Kalimantan Utara). Perjalanan dari Jakarta hingga mencapai pedalaman hutan Bukit Batikap ditempuh dalam kurun waktu berhari-hari dengan menempuh berbagai macam moda transportasi. Perjalanan dari Jakarta ke Palangkaraya ditempuh menggunakan pesawat komersil. Kemudia lanjutkan dengan pesawat kecil berbaling-baling yang ukuran pesawatnya bahkan lebih kecil dari bus karena hanya memiliki 8 seat sajamenuju Kabupaten Barito Hulu.  Setelah menginap semalam di Kabupaten Barito Hulu, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri Sungai Barito dengan menggunakan kapal feri.  Perjalanan masih berlanjut menggunakan moda transportasi truk terbuka yang memakan waktu perjalanan sampai setengah hari untuk menuju ke desa terdekat. Di sela-sela perjalanan tersebut, ibu dari 2 orang anak perempuan yang akrab disapa Bu Yayuk ini terpaksa harus membuat camp bersama rekan-rekan satu tim nya di pinggiran Sungai Barito karena waktu dan kondisi medan yang sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.  Sesampainya di desa terdekat, perjalanan dilanjutkan dengan moda transportasi kapal ketinting menuju bagian hilir Sungai Barito.  Bu Yayuk sempat mengalami penolakan dari tokoh adat setempat yang menyatakan bahwa sesuai ketentuan adat perempuan tidak diperkenankan ikut masuk merambah ke dalam wilayah hutan.  Kebetulan dalam tim eksplorasi tersebut, Bu Yayuk memang merupakan satu-satunya anggota tim yang perempuan.  Akhirnya Ketua Tim mengambil peran penting dengan melakukan negosiasi dengan tokoh adat dan akhirnya Bu Yayuk diijinkan masuk ke dalam hutan namun harus siap dengan segala kemungkinan resiko yang akan diterima. Akhirnya tim yang berjumlah 6 orang peneliti dan didampingi beberapa penduduk lokal berhasil masuk hutan dan mengambil plasma nutfah yang menjadi target eksplorasi.  Namun dalam perjalanan pulang menyusuri hilir sungai Barito, perahu ketinting yang dinaiki tanpa diduga tertimpa pohon besar yang tumbang dan mengakibatkan seorang penumpang yang duduk di bagian depan luka hingga harus dibawa ke puskesmas terdekat yang memakan waktu perjalanan sehari semalam. Saat itu, Bu Yayuk tak henti mengucap syukur, karena beliaulah yang semula duduk  di bangku tersebut sesaat sebelum pindah ke bangku belakang mengikuti saran dari rekan satu tim nya.

Pengalaman bertemu dengan ular dan binatang buas di hutan mungkin sudah tak terhitung.  Kemampuan beradaptasi dengan segala medan eksplorasi sudah beliau kuasai termasuk ketika sebagai seorang perempuan harus melakukan aktivitas MCK di hutan atau di sungai yang terbuka.  Beliau bahkan menyampaikan trik dan tips kepada penulis untuk menyiasati keadaan tersebut dengan nyaman dan aman. Semua kesulitan dan keterbatasan fasilitas serta akses selama menjalani kegiatan eksplorasi selalu disambut dengan penuh semangat sebagai tantangan profesi oleh Bu Yayuk. Pun ketika harus bertugas dan terpaksa meninggalkan rumah dan 2 putrinya yang saat itu masih kecil.  Hal ini tentunya tak lepas dari dukungan penuh sang suami yaitu Dr. drh. Akhmad Arif Amin, yang berprofesi sebagai akademisi pada Fakultas Kedokteran Hewan IPB.  Saat Bu Yayuk ragu mengambil keputusan terkait pekerjaannya, sang suami selalu mensupport dengan menanamkan motivasi bahwa seyogyanya kita melakukan segala bentuk tanggung jawab dan profesionalisme pekerjaan sebagai bagian dari ibadah yang tujuannya semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT. Dengan family supporting system yang kuat, Bu Yayuk berhasil menekuni bidang keilmuannya dengan penuh dedikasi dan prestasi. Beberapa penghargaan telah beliau peroleh di antaranya penghargaan Breeder Award pada ulang tahun LIPI yang ke-50 pada tahun 2017 dan pada tahun yang sama pula berhasil meraih MPPI Awards pada kategori pemulia tanaman hias. Beragam tawaran kerjasama penelitian dan komersialisasi  dengan pihak asing pun berdatangan di antaranya dari Uni Eropa.

Saat ini, Bu Yayuk masih terus mengupayakan kegiatan-kegiatan pengenalan dan sosialisasi dengan tujuan agar masyarakat lebih mengenal dan menyukai bunga lipstick dan bunga hoya. Hingga saat ini, bunga lipstick dan bunga hoya dianggap tidak populer dan masih kalah pamornya dengan anggrek dan tanaman hias lainnya. Sehingga peminat bunga lipstick dan bunga hoya masih terbatas pada kolektor saja.  Untuk itu,Bu Yayuk menyambut baik upaya penyusunan Profil Varietas Indonesia Jilid I ini dan berharap agar media ini dapat menjadi salah satu bagian dari mekanisme promosi sehingga meningkatkan minat masyarakat untuk mengoleksi bunga lipstick dan bunga hoya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *