RESEARCH By REQUEST ALA SUMANAH

RESEARCH By REQUEST ALA SUMANAH

Namanya sederhana Sumanah. Dalam Bahasa Jawa, “su” berarti “yang baik” dan “manah” berarti “hati”. Nama yang terdengar sederhana itu ternyata memiliki makna yang sangat dalam yaitu : “hati yang baik”. Jangan bandingkan kesederhanaan namanya itu dengan pengetahuan dan pengalamannya merakit varietas khususnya hortikultura. Lewat tangan dingin perempuan yang ramah dan keibuan ini telah lahir puluhan varietas sebanyak 35 varietas di antaranya bahkan telah lolos pelepasan dan dalam waktu 5 varietas lainnya akan menyusul dilepas juga. Sungguh bukan prestasi yang sederhana! Apalagi jika menilik pendidikan formal yang pernah dienyamnya hanya sebatas STM Pertanian.
Karirnya sebagai breeder diawali saat diterima di PT. East West Seed Indonesia. Sebagai siswa lulusan terbaik STM Pertanian Temanggung tahun 1996, tentu bukan hal yang sulit bagi Sumanah untuk menembus PT. EWSI yang saat itu terbilang masih baru dalam industri perbenihan. Sumanah yang cerdas dan tekun, menyelami pekerjaannya sebagai asisten breeder dengan sungguh-sungguh.

Kala itu, setiap asisten breeder melakukan segala tahapan dalam proses perakitan varietas mulai dari survei pasar hingga tahap penentuan kandidat varietas. Begitu pula Sumanah, beberapa varietas hasil rakitannya semasa menjadi karyawan PT. EWSI masih eksis bertahan di pasar hingga sekarang seperti varietas buncis tresna, logawa dan kacang panjang parade, yang bahkan sudah di -PVT- kan.

“Saya menikmati setiap prosesnya. Di masa itu, dari a sampai harus saya kerjakan semua sebagai asisten breeder. Memang susah dan repot sekali, apalagi di jaman itu transportasi dan komunikasi belum secanggih sekarang. Tapi melalui tempaan kesulitan itu, saya menuai hikmahnya sekarang. Apa yang saya lakoni di jaman itu, saya implementasikan untuk mengembangkan perusahaan saya sekarang. Dan Alhamdulilah, hasilnya bisa manfaat untuk banyak orang”, jelasnya dengan sumringah.

Berbincang dengan Sumanah, penulis dapat merasakan passionnya yang memang besar dalam dunia perakitan varietas. Lahir dan dibesarkan dalam keluarga petani melekatkan identitas dan kebudayaan bertani dalam diri pribadinya secara utuh. Kebersahajaan terkesan dengan baik berbincang dengan penerima Apresiasi Perlindungan Varietas Tanaman (APVT) 2017 ini. Filosofi hidupnya pun sederhana yakni menjadi manusia yang bermanfaat melalui mutu dan kualitas benih yang berhasil dirakitnya.

“Waktu kecil hingga remaja, kegiatan saya sehari-hari ya bertani membantu bapak dan ibu saya yang memang petani tulen. Maka ketika akhirnya saya sekolah di STM Pertanian, saya tidak menemui hambatan sama sekali. Apa yang diajarkan sudah lama saya praktekkan di lahan sawah orang tua saya. Saat teman-teman saya menghafalkan dosis pemupukan yang tepat, saya sudah di luar kepala. Karena ya, saya sudah mempraktekkan ilmunya sejak sebelum sekolah di STM itu”, kenangnya sambil terkekeh geli.

“Justru dari sekolah, saya dapat gambaran ilmu pertanian yang jauh lebih luas lagi. Saya jadi tahu tidak hanya sebatas padi dan palawija yang sehari-hari saya tanam di sawah, tapi bahkan sampai tanaman keras semacam kopi, kakao, kina dan lain sebagainya. Sekolah saya jaman dulu, entah bagaimana kurikulumnya, sangat komprehensif membahas per komoditas. Lahan praktikumnya saja tiga gunung. Entah berapa hektar luasnya. Teori dan praktikum memang lebih banyak praktikumnya. Sehingga siswa benar-benar paham. Sayangnya, kurikulum sekarang tidak begitu”, tukasnya masih dengan senyum.

Kini berbekal ilmu pengetahuannya dari bangku STM dan pengalamannya selama menjadi asisten breeder terutama perakitan Leguminoceae di PT. EWSI selama 10 tahun, Sumanah membesarkan perusahaannya : CV. Jogja Horti Lestari. Sebuah perusahaan penjualan benih yang berlokasi di Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

“Kebanyakan mereka yang bekerja di sini adalah siswa magang dari sekolah saya dulu. Yang pinter dan rajin, biasanya setelah lulus STM akan saya tawari untuk kerja di sini. Jujur, saya lebih senang dengan siswa magang STM dibandingkan mahasiswa magang. Karena siswa STM itu lebih ulet dan tekun kerjanya. Kalau mahasiswa, malah banyak yang sering bolos dan gak sungguh-sungguh kerjanya”, ujarnya terus terang.

Sebagai breeder, pekerjaan Sumanah dapat dianalogikan dengan penjahit atau designer. Banyak klien yang datang dari berbagai daerah, mengajukan permohonan kerjasama untuk memesan varietas tertentu sesuai dengan yang pasar mereka butuhkan. Sumanah telah memiliki seed storage dengan ratusan parental, sehingga tidak terlampau sulit baginya untuk merakit varietas sesuai pesenan klien-kliennya. Merakit varietas pesanan klien tak ubahnya pekerjaan penjahit: mendesain baju dan menjahitnya sesuai keinginan klien. Konsep itulah yang mendasari core business Sumanah yang ia sebut sebagai “research by request”. “Kalau dulu saya yang kesana kemari untuk survei pasar, Alhamdulilah sekarang pasar yang berdatangan ke sini sendiri”, ujarnya.

“Saya juga membuka kesempatan bekerja sama dengan perusahaan trading yang ingin memasarkan benih varietas hasil rakitan saya. Perusahaan-perusahaan tersebut bebas mengemas dan menjual produk benih saya dengan merek mereka sendiri. Jadi sangat mungkin, di suatu toko benih ada beberapa merek benih tomat, tapi sebenarnya isinya sama, benih tomat varietas saya”, ujarnya lagi menjelaskan mekanisme bisnis yang dikembangkannya.
Industri perbenihan memang sangat prospektif namun sekaligus kompetitif. Sumanah optimis dapat menggelutinya dengan mengoptimalkan kompetensi dan pengalaman yang dimilikinya. Bahkan menghadapi kasus copy variety pun tidak diambil pusing olehnya. Tujuannya hanya ingin berkarya dan menghasilkan sebanyak mungkin benih varietas yang memberikan manfaat, khususnya bagi petani.

“Biarlah varietas saya di-copy. Saya tidak akan tuntut. Energinya terlalu banyak jika saya tempuh jalur hukum. Lebih baik energi itu saya gunakan untuk merakit varietas lain yang lebih unggul. Saya meyakini kecurangan semacam itu akan menghilangkan keberkahan bagi pelakunya. Tidak ada artinya keuntungan materiil meski dalam jumlah besar, apabila tidak berkah!”, pungkasnya ringan, mengakhiri perbincangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *